Popular Posts
-
Bicaraku ... Di sini Aku merenung pekat malam Dari anjung rumah rakit Tampak berbalam deretan bakau yang menyubur Tiada yang jelas...
-
Jom bermain warna ... Dinihari di rumah rakit Wak Sempuh Lukis jea ... menanti kemunculan sang mentari Inilah hasil lukisan aku kali ...
-
Lukis jea...Kosong... ojai 17 Dis. 2014 Kosong pada pandangan mata belum tentu kosong pada hakikatnya -peace- >__< Te...
-
Lukis jea ... laut dan ombak gelora kulukis ... belum cukup menzahirkan rasa Perlu sesuatu untuk cari rasa itu ... Mungk...
-
BAB 19: Ujian semakin berat Tika hening menghentak ... jiwa resah Gerangan apa yang mengocak jenjam sukma? Selesai bersarapa...
-
Cerpen: Ibrah Sebuah Kehidupan Lukis jea ... selagi sungai itu mengalir ***ojai “Maaf atas setiap kesalahan. Semoga awak berbahagia...
-
Lukis jea ... dari kejauhan ...dari kejauhan... Aku melihat keindahan Lalu ku lontarkan rasa rindu -peace- >__< ...
-
Jom belajar tentang warna pigmen. (Pendidikan Seni Visual : Asas Seni Reka) Roda warna: Warna boleh dikelaskan kepada tiga jenis iait...
-
Lukis jea ... Lukis jea ... ... dilaila ... wajah yang pertama ku jumpa ... -peace- >__< kita akan bahagia jika da...
-
Lukis jea ... Apa nilai 'sahabat' bagimu? ... Petang itu Dilaila masih perlu ke kelas 'Lukisan da...
Thursday, 12 December 2013
Rasa 1 - Ceritalah ...
Ceritakan ...
Ceritakan kisah nan gemilang
Erti hidupnya jiwa insan nan malang?
Ria pilu tawa sendu nan bersilang
Indah sang mata yang memandang
Tepian watak tak terundang
Andai itu sebuah lakonan panjang
Ketawa kecewa
Engkau aku
Hilang pulang
Inikah? Itukah?
Dunia akhirat
Untung rugi
Papa kaya
Ampuh perkasa
Nyata maya
Malam yang menyuram
Api cinta yang kian padam
Nama yang kian kelam
Usia kini bukan semalam
Siapa yang masih menyelam?
Ingin terus tenggelam?
Ayuhlah bangun membidik azam!!
Labels:
puisi

Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Kalau sampai waktuku
ReplyDelete‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943