Popular Posts
-
Bicaraku ... Di sini Aku merenung pekat malam Dari anjung rumah rakit Tampak berbalam deretan bakau yang menyubur Tiada yang jelas...
-
Jom bermain warna ... Dinihari di rumah rakit Wak Sempuh Lukis jea ... menanti kemunculan sang mentari Inilah hasil lukisan aku kali ...
-
Lukis jea...Kosong... ojai 17 Dis. 2014 Kosong pada pandangan mata belum tentu kosong pada hakikatnya -peace- >__< Te...
-
BAB 19: Ujian semakin berat Tika hening menghentak ... jiwa resah Gerangan apa yang mengocak jenjam sukma? Selesai bersarapa...
-
Cerpen: Ibrah Sebuah Kehidupan Lukis jea ... selagi sungai itu mengalir ***ojai “Maaf atas setiap kesalahan. Semoga awak berbahagia...
-
Lukis jea ... paya dan bakau Kenapa paya dan bakau? Untuk menghargai alam dan isinya Juga melahirlan rasa syukur kepada Allah , tuha...
-
Lukis jea ... dari kejauhan ...dari kejauhan... Aku melihat keindahan Lalu ku lontarkan rasa rindu -peace- >__< ...
-
Lukis jea ... Lukis jea ... ... dilaila ... wajah yang pertama ku jumpa ... -peace- >__< kita akan bahagia jika da...
-
Lukis jea ... Apa nilai 'sahabat' bagimu? ... Petang itu Dilaila masih perlu ke kelas 'Lukisan da...
-
Lukis jea ... Kembali membelek lukisan ku ini ... 14 Nov 2014 Lama dulu ... sebuah lukisan dan cerita disebaliknya. Ku tumpangkan di ...
Saturday, 10 May 2014
Aku Puterimu Abah!
Resah gelisah abah menanti
Oh! Anak apa agaknya kali ini , harap-haraplah lelaki
Zuriat sebelum ini sudah sepasang kurniaan diberi
Alangkah baiknya jika berselang seli
Itupun jika Allah izinkan ... apapun kurniaNya pasti disyukuri
Apasallah belum lahir lagi?
Sinar mentari sudah semakin meninggi
Nanti kalau tegak di kepala , degil pulak budak ni!
Itu kata orang tua-tua , entah sesuai ke tidak diguna lagi
Zuriatku! Zuriatku! Ya Allah kurangkanlah kesakitan isteriku ini
Alhamdulillah ... seorang lagi puteri menjadi penyeri
Harap besar nanti jadi manusia berbudi tinggi
Besarlah segera wahai puteriku penyeri keluarga
Inilah dunia penuh pancaroba , hadapi dengan hati terbuka
Nanti pastinya kau kan diduga , itu sememangnya adat dunia
Tika itu jangan sesekali kau bersedih berduka
Ingatkan diri Allah sentiasa ada , takkan sendirian walau seketika
Masa berlalu mengikut janjinya
Onak ranjau mematangkan manusia
Hari berganti merubah segala
Dahulu kau anak kini telah dewasa
Sayang abahku puterimu ini sudah berkeluarga
Harinya kini sibuk sentiasa , berjumpamu sekali sekala
Apapun harapnya abah bahagia , tak pernah dilupa
Riang hatinya bila bersua walaupun hanya sesekali sahaja
Itulah adat seorang puteri , taatnya hanya seketika
Fahamlah abahku sayang , puterimu ini harus patuh segala
Fahamlah abahku sayang , sayang buatmu sentiasa ada
Terima kasih abah atas nama indah yang kau berikan - Rozai Asnizah Binti Mohd Shariff
Terima kasih abah ...aku sayang abah dan aku puterimu selamanya.
Labels:
puisi

Subscribe to:
Post Comments (Atom)
ni pe kes ?. balik kampung ada la abah komplen ye. rumput dan pokok ketapang dah tebang bagi senang anak nak balik parking kereta. hehe
ReplyDeleteHmm ... takdelah berkes-kes cuma ... den rindu kat abah den je.
DeleteKot den ni burung , den tobang balik malam , pagi kat sini smula.